Proposal penelitian

Implementasi Pembelajaran Tematik Berbasis Karakter Terhadap Keberhasilan Akademik Siswa MI Mifatahul Huda Ngasem Ngajum Malang

A.    Latar Belakang Masalah

Pembelajaran merupakan sebuah proses belajar, dimana didalamnya terdapat usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar. Masalah pembelajaran itu sendiri merupakan masalah yang cukup kompleks dan banyak factor yang mempengaruhinya.Oleh karena itu ada tiga prinsip yang layak diperhatikan dalam pembelajaran.Pertama, proses pembelajaran menghasilkan perubahan perilaku anak didik yang relative permanen. Tentunya dalam proses ini terdapat peran penggiat pembelajaran, yakni guru sebagai pelaku perubahan (agent of change). Kedua, anak didik memiliki potensi, kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan tanpa henti.Oleh karena itu, proses pembelajaran seyogyanya menyirami benih kodrati ini hingga tumbuh subur dan berbuah.Ketiga, perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh linear sejalan proses kehidupan. Artinya, proses belajar mengajar memang bagian dari kehidupan itu sendiri, tetapi ia didesain secara khusus dan diniati demi tercapainya kondisi dan kualitas ideal. Ketiga hal ini menegaskan definisi pembelajaran.[1]

Dewasa ini, seperti yang kita ketahui dampak globalisasi yang begitu hebatnya mampu membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter bangsa.Padahal, pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.Dari berbagai peristiwa saat ini, mulai dari tawuran antar pelajar, pengrusakan fasilitas pendidikan, kenakalan remaja, sampai pembunuhan sesama pelajar telah menunjukkan betapa rendahnya karakter dari diri bangsa Indonesia.[2]

Terpuruknya bangsa dan negara Indonesia saat ini tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi melainkan juga oleh krisis akhlak.Oleh karena itu, perekonomian bangsa menjadi ambruk, korupsi, kolusi, nepotisme dan perbuatan-perbuatan yang merugikan bangsa merajalela.Perbuatan-perbuatan yang merugikan dimaksud adalah perkelahian, perusakan, perkosaan, minum-minuman keras, dan bahkan pembunuhan.Keadaan seperti itu, terutama krisis akhlak terjadi karena kesalahan dunia pendidikan atau kurang berhasilnya dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda bangsanya.

Dunia pendidikan telah melupakan tujuan utama pendidikan yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara seimbang.Dunia pendidikan kita telah memberikan porsi yang sangat besar untuk pengetahuan, tetapi melupakan pengembangan sikap/nilai dan perilaku dalam pembelajarannya.Dunia pendidikan sangat meremehkan mata-mata pelajaran yang berkaitan dengan pembentukan karakter bangsa.

Di sisi lain, tidak dipungkiri bahwa pelajaran-pelajaran yang mengembangkan karakter  bangsa seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Agama serta Ilmu Pengetahuan Sosial dalam pelaksanaan pembelajarannya lebih banyak menekankan pada aspek kognitif dari pada aspek afektif dan psikomotor. Di samping itu, penilaian dalam mata-mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan nilai belum secara total mengukur sosok utuh pribadi siswa.

Berdasarkan kondisi peserta didik, peserta didik di kelas 1-3 berada di rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangannya masih meilhat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) sehingga pembelajarannya bergantung pada objek-objek yang konkret. Selain itu, jika pembelajaran dilakukan secara terpisah maka akan memunculkan permasalahan pada kelas awal (kelas 1-3) yaitu tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal  SD/MI di Indonesia masih rendah.[3]

Atas dasar pemikiran tersebut, maka model pembelajaran untuk kelas awal (kelas 1-3) lebih sesuai jika menggunakan pembelajaran tematik berbasis karakter. Untuk mencapai tujuan pendidikan karakter yang utuh perlu ditunjang oleh kurikulum yang mendukungnya, yaitu kurikulum holistic yang berupa pembelajaran tematik.Pembelajaran tematik merupakan sebuah pembelajaran yang “menyentuh” semua aspek kebutuhan anak.Sebuah pembelajaran yang terkait, tidak terkotak-kotak dan dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual. Bidang-bidang pengembangan yang ada di setiap satuan pendidikan dikembangakan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan social, pengembangan berpikir, kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motoric dapat teranyam dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran terpadu (tematik) dan menyeluruh (holistik).[4]

 Secara teknis, pembelajaran terpadu (tematik) dan menyeluruh (holistik) terjadi apabila kurikulum dapat menampilkan tema yang mendorong terjadinya eksplorasi atau kejadian-kejadian secara autentik dan alamiah. Dengan munculnya tema atau kejadian yang alami ini akan terjadi suatu proses pembelajaran yang bermakna dan materi yang dirancang akan saling terkait dengan berbagai bidang pengembangan yang ada dalam kurikulum sehingga pendidikan mampu membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter, yaitu dengan mengembangkan aspek fisik, emosi, social, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal, serta membentuk manusia yang long life learners (pembelajar sejati). Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul:

Implementasi Pembelajaran Tematik Berbasis Karakter Terhadap Keberhasilan Akademik Siswa MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang”

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:

1.      Bagaimana langkah-langkah penerapan pembelajaran tematik berbasis karakter di MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang?

2.      Adakah pengaruh penerapan pembelajaran tematik berbasis karakter terhadap keberhasilan akademik siswa MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang?

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan pembahasan diatas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:

1.      Untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran tematik berbasis karakter di Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang.

2.      Untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran tematik berbasis karakter terhadap keberhasilan akademik siswa MI Miftahul Huda Ngasem NgajumMalang.

 

D.    Manfaat Penelitian

1.      Bagi peneliti

Penelitian ini sangat penting bagi peneliti guna untuk meningkatkan wawasan serta  pedoman bagi peneliti sebagai calon sarjana yang professional. Selain itu, dengan melaksanakan PTK peneliti sedikit demi sedikit mengetahui strategi pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan keberhasilan akademik peserta didik.

2.      Bagi guru

Dengan penelitian ini, diharapkan hasil dari penelitian itu bisa menambah wawasan guru serta menjadi pedoman guru dalam melaksanakan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) guna meningkatkan keberhasilan akademik peserta didik dalam era globalisasi ini.

3.      Bagi peserta didik

Meningkatkan keberhasilan akademik serta mempunyai karakter yang unggul.

4.      Bagi sekolah

Dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam pelaksanaan pendidikan untuk meningkatkan keberhasilan akademik peserta didik.

E.     Kajian Kepustakaan

1.      Konsep teori

a.      Kajian tentang pembelajaran tematik

1)      Hakikat pembelajaran tematik

Pembelajaran tematik merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan, kreativitas, nilai dan sikap pembelajaran dengan menggunakan tema.Pembelajaran tematik dengan demikian adalah pembelajaran terpadu atau terintegrasi yang melibatkan beberapa pelajaran bahkan lintas rumpun mata pelajaran yang diikat dalam tema-tema tertentu.Pembelajaran ini melibatkan beberapa kompetensi dasar, hasil belajar, dan indiaktor dari suatu mata pelajaran atau bahkan beberapa mata pelajaran. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum dan aspek belajar mengajar. Diterapkannya pembelajaran tematik dalam pembelajaran, membuka ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar yang lebih bermakna, berkesan dan menyenangkan.[5]

Pembelajaran tematik sebagi model pembelajaran termasuk salah satu tipe atau jenis daripada model pembelajaran terpadu.Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Depdiknas, 2006:5).[6]

Istilah model pembelajaran terpadu sebagai  konsep sering dipersamakan dengan integrated teaching and learning, integrated curriculum approach, a coherent curriculum approach. Jadi berdasarkan istilah tersebut, maka pembelajaran terpadu pada dasarnya lahir salah satunya dari pola pendekatan kurikulum yang terpadu (integrated curriculum approach). Definisi mendasar tentang kurikulum terpadu dikemukakan oleh Humphreys, et al. (1981:11-12) bahwa:

“studi terpadu adalah studi di mana para siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan mereka dalam berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dari lingkungan mereka. Ia melihat pertauatan anatar kemanusiaan, seni komunikasi, ilmu pengetahuan alam, matematika, studi social, music dan seni. Keterampilan pengetahuan dikembangkan dan diterapkan di lebih dari satu wilayah studi.”[7]

Konsep pembelajaran terpadu pada dasarnya telah lama dikemukakan oleh John Dewey sebagai upaya untuk mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan pengetahuannya (Beans, 1993 dalam Udin Syaefudin dkk, 2006:4). Ia memberikan pengertian bahwa pembelajaran terpadu  adalah pengdekatan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan pada interaks dengan lingkungan dan pengalaman kehidupannya. Hal ini membantu siswa untuk belajar menghabungkan apa yang telah dipelajari dan apa yang sedang dipelajari.Menurut T. Raka Joni (1996) bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa secara individual ataupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan autentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa autentik atau eksplorasi topic/tema menjadi pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema/peristiwa tersebut siswa belajar sekaligus proses dan isi beberapa mata pelajaran secara serempak.[8]

            Pendekatan tematik atau terpadu dalam pembelajaran sangat membuka peluang bagi guru untuk mengambangakan berbagai strategi dan metodologi paling tepat.Pemilihan dan pengembangan strategi pembelajaran mempertimbangkan kesesuaian dengan tema-tema yang dipilih sebelumnya.Disinilah guru dituntut lebih kreatif dalam menghadirkan suasana pembelajaran yang menggiring peserta didik mampu memahami kenyataan hidup yang dijalaninya setiap hari baik menyangkut dirinya sebagai pribadi maupun dalam hubungannya dengan keluarga, masyarakat, lingkungan dan alam sekitarnya.

            Adapun pendekatan yang dipilih, yang terpenting dalam pembelajaran adalah menempatkan peserta didik sebagai pusat aktivitas. Peserta didik tidak hanya terbatas “mempelajari tentang suatu hal”, melainkan bagaimana proses belajar itu mampu memperkaya khazanah pengalaman belajar dan mempelajari bagaimana cara belajar. Proses pengalaman belajar tersebut dituangkan dalam kegiatan belajar yang menggali dan mengembangkan fenomena alam di sekitarnya. Dalam pembelajaran tematik, pembelajaran tidak semata-mata mendorong peserta didik untuk mengetahui (learning to know), tapi belajar juga untuk melakukan (learning to do), belajar untuk menjadi (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama (learning to live together).[9]

Berdasarkan berbagai pengertian tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran tematik/terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang memadukan beberapa materi pembelajaran dari berbagai standar kompetensi dan kompetensi dasar dari satu atau beberapa mata pelajaran. Penerapan pembelajaran ini dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yakni penentuan berdasarkan keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar, tema dan masalah yang dihadapi.

2)      Prinsip dasar pembelajaran tematik

Sebagai bagaian dari pembelajaran terpadu, maka pembelajaran tematik memiliki prinsip dasar sebagaimana halnya pembelajaran terpadu.Menurut Ujang sukandi, dkk (2001: 109), pembelajaran terpadu memiliki satu tema actual, dekat dengan dunia siswa da nada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.Tema ini menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa materi pelajaran. Secara umum prinsip-prinsip pembelajaran tematik dapat diklasifikasikan menjadi:[10]

a.      Prinsip penggalian tema

Prinsip penggalian tema merupakan prinsip utama (focus) dalam pembelajaran tematik. Artinya tema-tema yang saling tumpang tindih dan ada keterkaitan menjadi target utama dalam pembelajaran. Dengan demikian, dalam penggalian tema tersebut hendaklah memerhatikan beberapa persyaratan:

a)      Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran.

b)      Tema harus bermakna, makudnya ialah tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi sisa untuk belajar  selanjutnya.

c)      Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologiss anak.

d)     Tema dikembangkan harus meadahi sebagian besar minat anak.

e)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa autentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar.

f)       Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat (asas relevansi).

g)      Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

 

b.      Prinsip pengelolaan pembelajaran

Pengelolaan pembelajaran dapat optimal apabila guru mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses. Artinya, guru harus mampu menempatkan diri  sebagai fasilitator dan mediator  dalam proses pembelajaran. Oleh sebab menurut Prabowo (2000), baha dalam pengelolaan pembelajaran hendaklah guru dapat berlaku sebagai berikut:

a)      Guru hendaknya jangan menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar.

b)      Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerja sama kelompok.

c)      Guru perlu mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan.

c.       Prinsip evaluasi

Evaluasi pada dasarnya menjadi fokus dalam setiap kegiatan. Bagaimana suatu kerja dapat diketahui hasilnya apabila tidak dilakukan evaluasi. Dalam hal ini, maka dalam melaksanakan evaluasi  dalam pembelajaran tematik, maka diperlukan beberapa langkah-langkah positif antara lain:

a)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri (self evaluation/self assesment) disamping bentuk evalusi lainnya.

b)      Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapain tujuan yang akan dicapai.

d.      Prinsip reaksi

Dampak pengiring (nurturant effect) yang penting bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam KBM. Karena itu, guru dituntut agar mampu merncanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa dalam semua peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit tetapi kesebuah kesatuan yang utuh dan bermakna. Pembelajaran tematik memungkinkan hal ini dan guru hendaknya menemukan kiat-kiat untuk memunculkan ke permukaan hal-hal yang dicapai melalui dampak pengiring tersebut.

3)      Arti penting pembelajaran tematik

Pembelajaran tematik, sebagai model pembelajaran memiliki arti penting dalam membangun kompetensi peserta didik, antara lain: pertama, pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Kedua, pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan memengaruhi kebermaknaan belajar siswa.[11]

Ada beberapa alasan tentang pengtingya pendekatan tematik dalam pembelajaran, terutama bagi peserta didik madrasah tingkat dasar. Pertama, pendekatan tematik mengharuskan perubahan paradigma pembelajaran lama yang keliru. Dulu, proses belajar mengajar masih berpusat kepada guru. Guru adalah segalanya bagi peserta didik. Sehingga yang terjadi adalah sekedar “pengajaran”, bukan “pembelajaran”. Tidak demikian halnya bagi pembelajaran tematik. Dengan pendekatan tematik, pembelajaran (bukan pengajaran) dipusatkan kepada peserta didik, bukan guru. Sebab dalam hal ini guru memerankan fungsi fasilitator dan motivator yang membantu pengembangan kreativitas peserta didik, tanpa harus ada penyeragaman atau pemaksaan untuk mengikut pemahaman guru. Disana peserta didik diberikan ruang bebas untuk mewujudkan potensi dan menampilkan karakteristiknya masing-masing. Kedua, pembelajaran tematik meruapakan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan dan kecenderungan anak usia dini rentang umur antara 0-8 tahun. Dalam tinjauan psikologi, anak tumbuh dan berkembang secara holistik dan menyeluruh. Perkembangan aspek kognitif seorang anak, berkaiatan erat dengan perkembangan aspek psikomotorik. Pada rentang umur tersebut, perkembangan berbagai kecerdasan anak IQ, EQ dan SQ sangat luar biasa. Ketiga, pendekatan tematik memungkinkan penggabungan berbagai perspektif dan kajian interdisiplin dalam memahami suatu tema tertentu. Penerapan pendekatan tematik merupakan upaya pengembangan kemampuan dan potensi peserta didik dalam memahami kenyataan hidup yang serba kompleks dan multivariabel. Keempat, pendekatan tematik mendorong peserta didik memahami wacana aktual dan kontekstual. Sehingga pembelajaran digiring bukan hanya untuk memperkaya wawasan keilmuan peserta didik, tetapi juga melibatkan peserta didik untuk mendapatkan pengalaman langsung dari realitas gejala sosiokultural ataupun gejala alam yang terus berubah. Kelima, pendekatan temtik menuntut penerapan metodologi pembelajaran yang bervariasi. Metodologi pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan (content) tema yang sedang menjadi materi pembelajaran serta waktu dan tempat.[12]

Selain itu, pembelajaran tematik juga memiliki arti penting dalam kegiatan belajar belajar. Ada beberapa alasan yang mendasarinya[13], yaitu:

1)      Dunia anak adalah dunia nyata

Tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dengan tahap berpikir nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak melihat mata pelajaran berdiri sendiri. Mereka melihat objek atau peristiwa yang didalamnya memuat sejumlah konsep/materi beberapa mata pelajaran.

2)      Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/objek lebih terorganisasi

Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu objek sangat bergantung pada pengetahuan yang sudah dimiliki anak sebelumnya. Masing-masing anak selalu membangun sendiri pemahaman terhadap konsep baru.

3)      Pembelajaran akan lebih bermakna

Pembelajaran akan lebih bermakna kalau pelajaran yang sudah dipelajari siswa dapat memanfaatkan untuk mempelajari materii berikutnya. Pembelajaran terpadu sangat berpeluang untuk memanfaatkan pengetahuan sebelumnya.

4)      Memberi peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan diri

Pengajaran terpadu memberi peluang siswa untuk mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara bersamaan. Ketiga ranah pendidikan itu meliputi sikap (jujur, teliti, tekun dan terbuka terhadap gagasan ilmiah), keterampilan (memperoleh, memanfaatkan, dan memilih informasi, menggunakan alat dan kepemimpinan) dan ranah kognitif (pengetahuan).

5)      Memperkuat kemampuan yang diperoleh

Kemampuan yang diperoleh dari satu mata pelajaran akan saling memperkuat kemampuan yang diperoleh dari mata pelajaran lain.

6)      Efisiensi waktu

Guru dapat lebih menghemat waktu dalam menyusun persiapan mengajar. Tidak hanya siswa, guru pun dapat belajar lebih bermakna terhadap konsep-konsep sulit yang akan diajarkan.

4)      Kelebihan pembelajaran tematik

Pembelajaran tematik pada kenyataannya memiliki beberapa kelebihan seperti pembelajaran terpadu. Menurut Departemen Pendidikan Kebudayaan (1996), pembelajaran terpadu memiliki kelebihan sebagai berikut:

1)      Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.

2)      Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

3)      Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.

4)      Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.

5)      Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai lingkungan anak.

6)      Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu. Keterampilan sosial ini antara lain: kerja sama, komunikasi dan mau mendengarkan pendapat orang lain.

Selain keenam kelebihan tersebut, apabila pembelajaran tematik dirancang bersama, dapat meningkatkan kerja sama antarguru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan narasumber, sehingga belajara lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata dan dalam konteks yang lebih bermakna (Indrawati, 2009:2). Pembelajaran terpadu juga menyajikan beberapa keterampilan dalam suatu proses pembelajaran. Selain mempunyai sifat luwes, pembelajaran terpadu memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak (Depdiknas, 2000:2).

Apabila ditinjau dari aspek guru dan peserta didik, pembelajaran tematik memiliki beberapa keuntungan.[14] Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru antara lain:

1)      Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran.

2)      Hubungan antar-mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan alami.

3)      Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kontinu, tidak terbatas pada buku paket. Guru dapat membantu siswa memperluas kesmpatan belajar ke berbagai aspek kehidupan.

4)      Guru bebas membantu siswa melihat masalah, situasi atau topik dari berbagai sudut pandang.

5)      Pengembangan masyarakat belajara terfasilitasi. Penekanan pada kompetisi bisa dikurangi dan diganti dengan kerjasama dan kolaborasi.

Adapun keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa antara lain:

1)      Dapat lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar.

2)      Menghilangkan batas semu antarbagian kurikulum dan meyediakan pendekatan proses belajar yang integratif.

3)      Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar.

4)      Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas.

5)      Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman.

Selain kelebihan yang dimiliki, pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan, terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perencanaan dan pelaksaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja (Indrawati, 2009: 2).

5)      Karakteristik pembelajaran tematik

Menurut Depdiknas (2006: 6) pembelajaran tematik memiliki ciri khas antara lain:

a.       Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar.

b.      Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.

c.       Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama.

d.      Membantu mengembangkan keterampilan berfikir siswa.

e.       Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya.

f.       Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

Selain itu, sebagai model pembelajaran tematik di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, pembelajaran tematik memiliki karakteristik antara lain, (Depdiknas: 2006) :

1)      Berpusat pada siswa

Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student center), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, yaitu memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

2)      Memberikan pengalaman langsung

Pembelajaran tematik memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata/konkret sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

3)      Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar amat pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

4)      Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa  dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

5)      Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran  dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkan dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan siswa berada.

6)      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

Pembelajaran tematik mengadopsi prinsip belajar PAIKEM, yaitu pembelajaran aktif, kreatuf, efektif dan menyenangkan.

Aktif, bahwa dalam pembelajaran peserta didik aktif secara fisik dan mental dalam hal mengemukakan penalaran (alasan), menemukan kaitan yang satu dengan yang lain, mengkomunikasikan ide/gagasan, mengemukakan bentuk representasi yang tepat dan menggunakan semua itu untuk memecahkan masalah.

Kreatif, berarti dalam pembelajaran peserta didik melakukan serangakaian proses pembelajaran secara runtut dan berkesinambungan yang meliputi:

a)      Memahami masalah

          Menemukan ide yang terkait

          Mempresentasikan dalam bentuk lain yang mudah diterima

          Menemukan gap yang harus diisi untuk memecahkan masalah

b)      Merencanakan pemecahan masalah

          Memikirkan macam-macam strategi yang mungkin dapat digunakan untuk memecahkan masalah

          Memilih strategi atau gabungan strategi yang palling efektif dan efisien

          Merancang tahap-tahap eksekusi

c)      Melaksanakan rencana pemecahan masalah

          Menentukan titik awal kegiatan pemecahan masalah

          Menggunakan penalaran untuk memperoleh solusi yang dapat dipertanggung jawabkan

d)     Memeriksa ulang pelaksanaan pemecahan masalah

          Memeriksa ketepatan jawaban dan langkah-langkahnya

Efektif, artinya adalah berhasil mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan. Dalam pembelajaran telah terpenuhi apa yang menjadi tujuan  dan harapan yang hendak dicapai.

Menyenangkan, berarti sifat terpesona dengan keindahan, kenyamanan, dan kemanfaatannya sehingga mereka terlibat dengan asyik dalam belajar sampai luap waktu, penuh percaya diri, dan tertantang untuk melakukan hal serupa atau hal yab]ng lebih berat lagi.

6)      Langkah-langkah pembelajaran tematik

Pada dasaranya langkah-langkah (sintaks) pembelajaran tematik mengikuti langkah-langkah pembelajaran terpadu. Secara umum sintaks tersebut mengikuti tahap-tahap yang dilalui dalam setiap model pembelajaran meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. (Prabowo, 2000: 6). Adapun secara umum langkah-langkah pembelajaran tematik sebagai berikut:

1)      Tahap perencanaan

a)      Menentukan jenis mata pelajaran dan jenis keterampilan yang dipadukan.

Karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk kegiatan awal ini. Seperti contoh yang diberikan Fogarty (1991: 28), untuk jenis mata pelajaran sosial dan bahasa dapat dipadukan keterampilan berfikir dengan keterampilan sosial.

b)      Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator.

Langkah ini akan mengarahkan guru untuk menentukan sub-keterampilan dari masing-masing keterampilan yang dapat diintegrasikan dalam suatu unit pembelajaran.

c)      Menentukan sub-keterampilan yang dipadukan

Secara umum keterampilan yang harus dikuasai meliputi keterampilan berfikir, keterampilan sosial, dan keterampilan mengorganisasi yang masing-masing terdiri atas sub-sub keterampilan.

d)     Merumuskan indikator hasil belajar

Berdasarkan kompetensi dasar dan sub keterampilan yang dipillih dirumuskan indikator. Setiap indikator dirumuskan berdasarkan kaidah penulisan yang meliputi: audience, behaviour, condition dan degree.

e)      Menentukan langkah-langkah pembelajaran

Langkah ini diperlukan sebagai strategi guru untuk mengintegrasikan setiap sub-keterampilan yang telah dipilih pada setiap langkah pembelajaran.

2)      Tahap pelaksanaan

Prinsip-prinsip utama dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu, meliputi:

a)      Guru hendaknya tidak menjadi single actor yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran memungkinkan siswa menjadi pembelajaran mandiri.

b)      Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama dalam kelompok.

c)      Guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam proses perencanaan. (Depdiknas, 1996: 6)

3)      Tahap evaluasi

Tahap evaluasi dapat berupa evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Tahap evaluasi menurut Depdiknas (1996: 6), hendaknya memerhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu, yaitu:

a)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya.

Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevalusi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.

b.      Kajian tentang pendidikan karakter

1)      Hakikat pendidikan dan pendidikan karakter

Pendidikan menurut John Dewey adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kea rah alam dan sesame manusia. Tujuan pendidikan dalam hal ini agar generasi muda sebagai generasi penerus bangsa dapat menghayati, memahami, mengamalkan nilai-nilai atau norma-norma tersebut dengan cara mewariskan segala pengalaman, peengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang melatarbelakangi nilai-niali dan norma-norma hidup dan kehidupan.[15]

Selain itu pendidikan juga merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarkat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi, yaitu sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar, yaitu:

1)      Afektif, yang tercermin pada kual,its keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul dan kompetisi estetis.

2)      Kognitif, yang tercermin pada kapasitas piker dan daya intelektu7alitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

3)      Psikomotorik, yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

Sedangkan karakter menurut Simon Philips dalam buku Refleksi Karakter Bangsa (2008: 235), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada susatu system yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan. Sementara itu Koesoema A (2007: 80) menyatakan bahwa karakter sam dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai “ cirri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.” Prof. Suyanto, Ph.D menyatakan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi cirri kahs tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bias membuat keputusan dan sisap mempertanggungjawabkab tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Imam Ghazali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.[16]

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakter itu berkaiatn dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Jadi ‘orang berkarakter’ adalah oranr yang mempunyai kualitas moral positif. Dengan demikian, pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implicit mengandung arti membangung sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan negative atau yang buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligan (Raka, 2007:5) yang mengaitlkan secara langsung ‘character strength’ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagi unsure-unsur psikologis yang membangun kebajikan. Dimana salah satu criteria utamanya adalah karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.

Untuk dapat memahami pendidikan karakter itu sendiri, kita perlu memahami struktur antroplogis yang ada dalam diri manusia (Koesoema A, 2007:80). Struktur antropologis manusia terdiri atas jasad, ruh dan akal. Hal ini selaras dengan pendapat Lickona (1992) yang menekankan tiga komponen karakter yang baik, yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral), dan moral action (perbuatan moral), yang diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan. Istilah lainnya adalah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dalam mewujudkan pendidikan karakter, tidak dapat dilakukan tanpa penanaman nilai-nilai (Azra, 2002:172). Terdapat Sembilan karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu:

1)      Cinta Tuhan segenap ciptaan-Nya.

2)      Kemadirian dan tanggung jawab

3)      Kejujuran/amanah, diplomatis

4)      Hormat dan santun

5)      Dermawan, suka tolong menolong dan gotong-royong/kerjasama

6)      Percaya diri dan pekerja keras

7)      Kepemimpinan dan keadilan

8)      Baik dan rendah hati

9)      Karakter toleransi, kedamaian dan kesatuan

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistic dengan menggunakan metode knowing the good, feeling the good dan acting the good. Knowing the good  bias mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditrumbuhkan feeling loving the good,  yakni bagaiman merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bias membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Dengan cara demikian akan tumbuh kesadaran bahwa orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

            Dengan demikian tujuan pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Pada tingkat institusi, pendidikan karakter mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian dan symbol-simbol yang dipraktikan oleh semua warga sekolah dan  masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan cirri khas, karakter atau watak dan citra sekolah tersebut di  mata masyarakat luas.

2)      Ciri dasar dan sasaran pendidikan karakter

Menurut Foerster, pencetus pendidikana karakter dan pedagog Jerman, ada empat cirri dasar dalam pendidikan karkater, yaitu:

1)      Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normative setiap tindakan.

2)      Koherensi yang member keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.

3)      Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.

4)      Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik dan kesetiaan meruapakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. “orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan imperior.” Karakter inilah yang menentukan performa seseorang pribadi dalam segala tindakannya.[17]

            Adapun sasaran pendidikan karakter adalah seluruh warga civitas  akademika yang terdapat pada setiap satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta. Semua warga sekolah yang meliputi peserta didik, guru, karyawan administrasi dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dapat dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain. Melalui program ini diharapkan lulusannya memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter  mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memilik kepribadian yang baik seuai norma-norma dan buday-budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.

            Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indicator oleh peserta didik sebagiamana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan, yang natara lain meliputi sebagai berikut:[18]

1)      Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.

2)      Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

3)      Menunjukkan sikap percaya diri.

4)      Mematuhi aturan-aturan social yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.

5)      Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras dan golongan social ekonomi dalam lingkup nasional.

6)      Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis dan kreatif.

7)      Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif.

8)      Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

9)      Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

10)  Mendeskripsikan gejala alam dan social.

11)  Memanfatkan lingkungan secara bertanggung jawab.

12)  Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara kesatuan Republik Indonesia.

13)  Menghargai karya seni dan budaya nadional.

14)  Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.

15)  Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik.

16)  Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun

17)  Memahami hak dann kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. Menghargai adanya perbedaan pendapat.

18)  Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.

19)  Menunjukkna keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.

20)  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.

21)  Memiliki jiwa kewirausahaan.

3)      Pendekatan pendidikan karakter

Pendekatan pendidikan karakter menurut Superka, et. Al. (1976) yang dirumuskan dalam tipologinya berdasarkan pada berbagai pendidikan karakter yang berkembang dan digunakan dalam dunia pendidikan. Dalam kajian tersebut dibahas delapan pendekatan  pendidikan nilai berdasarkan kepada berbagai literature dalam bidang psikologi, sosiologi, filsafat dan pendidikan yang berhubungan dengan nilai. Selanjutnya, berdasarkan hasil pembahasan dengan para pendidik dan alasan-alasan praktis dalam penggunaannya di lapangan, berbagai pendekatan tersebut telah diringkas menjadi lima tipologi pendekatan yaitu:[19]

1)      Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach)

Pendekatan penanaman nilai adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai social dalam diri siswa. Menurut pendeketan ini, tujuan pendekatan nilai adalah diterimanya nilai-nilai social tertentu oleh siswa dan berubahnya nilai-nilai yang tidak sesuai dengan nilai-nilai social yang diinginkan. (Superka, et al. 1976). Menurut pendekatan ini metode yang digunakan dalam proses pembelajaran antara lain keteladanan, penguatan positif dan negative, simulasi, permainan peran dan lain-lain.

2)      Pendekatan pengembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)

Dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-maslaah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Menurut pendekatan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berfikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1998).

Ada dua tujuan utama yang ingin dicapai oleh pendekatan ini. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasrkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah morla (Lihat Superka, et al. 1976; Banks, 1985).

3)      Pendekatan analisis nilai (values clarification approach)

Pendekatan analisis nilai memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai social. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai social. Sementara itu, pendekatan perkembangan kognitif lebih berfokus pada dilemma moral yang bersifat perseorangan.

Ada dua tujuan utama pendidikan moral menurut pendekatan  ini. Pertama, membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah social, yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua, membantu siswa untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik, dalam menghubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Selanjutnya, metode-metode pengajaran yang sering digunakan adalah pembelajaran secara individu atau kelompok tentang masalah-masalah social yang memuat nilai moral, penyelidikan kepustakaan, penyelidikan lapangan dan diskusi kelas berdasarkan kepada pemikiran rasioanal (Superka, et al. 1976).

4)      Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach)

Pendekatan klarifikasi nilai member penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Menurut pendeketaan ini, tujuan pendidikan akarakter ada tiga. Pertama, membantu siswa agar menyadari dan mengidentifikasi nilai-nlai mereka sendiri serta nilai-nialai orang lain. Kedua, membantu siswa agar mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri. Ketiga, membantu siswa agar mampu menggunakan secara bersama-sma kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, mampu memahami perasaan, nilai-nilai dan pola tingkah laku mereka sendiri (Superka, et al. 1976). Dalam proses pengajarannya, pendekatan ini menggunakan metode dialog, menulis, diskusi dalam kelompok besar atau kecil dan lain-lain (Raths, et. Al., 1978).

5)      Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach)

Pendekatan pembelajaran berbuat menekankan pada usaha memberikan kesempatankepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam satu kelompok. Superka, et al. (1976) menyimpulkan ada dua tujuan utama pendidikan moral berdasrkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri. Kedua,  mednorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk social dalam pergaualan dengan sesame, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi.

Metode-metode pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi bilai digunakan juga dalam pendekatan ini. Metode-metode lain yang digunakan juga adalah proyek-proyek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat dan praktik keterampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesame (Superka, et al. 1976)

4)      Strategi pendidikan karakter

Dalam penerapan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai strategi pengintegrasian. Strategi yang dapat dilakukan adalah:[20]

a.       Pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari

Pelaksanaan strategi ini dapat dilakukan melalui cara berikut:

1.      Keteladanan/contoh

Kegiatan ini bias dilakukan oleh pengawa, kepala sekolah, staf administrasi di sekolah yang dapat dijadikan model bagi peserta didik.

2.      Kegiatan spontan

Yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku peserta didik yang kurang baik, seperti meminta sesuatu dengan berteriak, mencoret dinding.

3.      Teguran

Guru perlu menegur peserta didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.

4.      Pengkondisian lingkungan

Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa dengan penyediaan sarana fisik. Contoh: penyediaan tempat sampah, jam dinding dan lain sebagainya.

5.      Kegiatan rutin

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan berbaris masuk ruang kelas, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan.

b.      Pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan

Strategi ini dilaksanakan setelah terlebih dahulu guru membuat perencanaan atas nilai-nilai yang akan diintegrasikan dalam kegiatan tertentu. Hal ini dilakukan jika guru menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip moral yang diperlukan.

c.       Kajian tentang prestasi belajar

1)      Hakikat prestasi belajar

Prestasi  belajar  merupakan  hal  yang  tidak  pernah  habis-habisnyadibicarakan di dunia pendidikan. Karena prestasi belajar merupakan simbol dari keberhasilan  seorang  siswa  dalam  studinya.  Sehingga  prestasi  yang  tinggi merupakan dambaan setiap siswa, guru, juga orang tua.

Pengertian prestasi belajar menurut Darmadi (2009: 100) adalah sebagai berikut:[21]

Sebuah kecakapan atau keberhasilan yang diperoleh seseorang setelah melakukan sebuah kegiatan dan proses belajar sehingga dalam diri seseorang tersebut mengalami perubahan tingkah laku sesuai dengan kompetensi belajarnya.

Sedangkan menurut Nurkencana (dalam Ade Sanjaya, 2011) adalah sebagai berikut: Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.

Lanawati (dalam Reni Akbar Hawadi, 2004: 168) berpendapat bahwa “prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap proses belajar dan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan instruksional yang menyangkut isi pelajaran dan perilaku yang diharapkan oleh siswa”.

Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah sesuatu yang merupakan hasil dari proses belajar yang mengakibatkan perubahan tingkah laku sesuai dengan kompetensi belajarnya

2)      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Menurut Djaali (dalam Muhammad Baitul Alim, 2009) prestasi belajar seorang siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1)      Faktor Intrinsik (faktor dari dalam diri)

a)      Kesehatan

Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat mempengaruhi proses belajar.

b)      Intelegensi

Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. MenurutGardner dalam teori Multiple Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestetik fisik, sosial interpersonal dan intrapersonal.

c)      Minat dan motivasi

Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan. Motivasi merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri anak ataupun dari luar lingkungan

d)     Cara belajar

Perlu untuk diperhatikan bagaimana teknik belajar, bagaimana bentuk catatan buku, pengaturan waktu belajar, tempat serta fasilitas belajar.

2)      Faktor Eksternal (faktor dari lingkungan)

a)      Keluarga

Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak. Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan orangtua dan saudara, bimbingan orangtua, dukungan orangtua, sangat mempengaruhi prestasi belajar anak.

b)      Sekolah

Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat kelas, relasi teman sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga mempengaruhi anak dalam proses belajar.

c)      Masyarakat

Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan moral yang baik, terutama anak-anak mereka. Hal ini dapat sebagai pemicu anak untuk lebih giat belajar.

d)     Lingkungan sekitar

Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan iklim juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, jelas bahwa tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran di sekolah saja. Ada faktor dari dalam diri siswa ataupun dari lingkungan siswa. Maka dari itu untuk dapat meningkatkan prestasi siswa, diharapkan ada keinginan dari dalam diri siswa dan juga dukungan ataupun motivasi dari keluarga dan lingkungan disekitarnya.

2.      Penelitian terdahulu

Untuk menambah referensi dan sebagai rujukan, penulis mengungkapkan beberapa penelitian terdahulu yang pertama ditulis oleh Sarah yang berjudul Pembelajaran Tematik Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran IPS dengan Tema Permainan di Kelas III Sekolah Dasar, bahwa dengan menerapkan pembelajaran tematik pada proses pembelajaran IPS di kelas III SDN Karyabakti Kecamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Disini ada perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti  lakukan, persamaannya antara  lain adalah model pembelajaran  yang  digunakan  sama-sama menggunakan model  pembelajaran tematik untuk meningkatkan hasil/prestasi belajar, sedangkan perbedaannya adalah kalau penelitian terdahulu itu menggunakan pembelajaran tematik untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS, sedang penelitian sekarang itu menggunakan pembelajaran tematik berbasis karakter dalam meningkatkan keberhasilan akademik.

Sedangkan penelitian yang kedua dilakukakn oleh Neneng Yani yang  berjudul Penerapan Pendekatan Contextual Teaching Learning dalam Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA di Kelas 2 SD Negeri Soka 34/4 Kota Bandung, bahwa dengan menerapkan pendekatan CTL dalam pembelajaran tematik pada proses pembelajaran IPA di kelas 2 SD Negeri Soka 34/4 Kota Bandung terbukti efektif dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Disini ada perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti  lakukan, persamaannya antara  lain adalah model pembelajaran  yang  digunakan  sama-sama menggunakan model  pembelajaran tematik untuk meningkatkan hasil/prestasi belajar, sedangkan perbedaannya adalah kalau penelitian terdahulu itu menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPA, sedang penelitian sekarang itu menerapkan pembelajaran tematik berbasis karakter dalam meningkatkan keberhasilan akademik.

3.      Kerangka teoritik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

F.     Metode Penelitian

1.      Lokasi penelitian

Adapun  lokasi  yang  dijadikan  subyek  penelitian  ini  adalah MI MIftahul Huda Ngasem Ngajum Malang.  Penerapan  pembelajaran tematik berbasis karakter dilaksanakan pada kelas III semester genap tahun ajaran 2012-2013, dengan alasan  berdasarkan  survei keberhasilan akademik atau prestasi  siswa  dari proses pembelajaran konvensional yang dilakukan selama ini menunjukkan kurang baik, maka dari itu peneliti melakukan penelitian MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang.

2.      Jenis penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan,maka  jenis  dari  penelitian  ini  dapat  digolongkan  sebagai  penelitianpenjelasanataueksplanatory.  Singarimbun  menyatakan  bahwa  “Penelitianeksplanatoryadalah  penelitian  yang  menjelaskan  hubungan  kausal  antara  variable-variabelpenelitian dan melalui pengujian hipotesa”.

Dalam  penelitian  jenis  ini  yang  telah  dirumuskan dalam rumusan masalah akan  diuji  untukmengetahui  adanya  pengaruh  antara  variabel-variabel  dalam  penelitian  yaitumengenai  implementasi pembelajaran tematik berbasis karakter berpengaruh terhadap keberhasilan akademik siswa MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang.

3.      Populasi dan sampel

a.      Populasi

Populasi merupakan keseluruhan dari  subyek penelitian. Populasi dapat berupa manusia, benda, gejala-gejala, pola hidup, tingkah  laku, dan sebagainya. Ada dua macam populasi dalam penelitian yaitu, populasi terhingga yang terdiri dari elemen dengan  jumlah tertentu dan populasi tak terhingga yang terdiri dari elemen yang sukar dicari batasannya. Dalam penelitian ini peneliti menentukan populasi yaitu siswa MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang kelas III.

b.      Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili). Dalam penelitian ini peneliti menentukan sampel dari penelitian yaitu siswa kelas III A MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang.

4.      Instrument penelitian

Hal  yang  terpenting dalam penelitian adalah menentukan  instrumen  yangdigunakan  untuk  mengukur  variabel.  Dalam  penelitian  ini  terdiri  dari  tigavariabel  yaitu  pembelajaran tematik berbasis karakter  sebagai  variabel  bebas,sedangkankeberhasilan akademik atau prestasi siswa sebagai variabel terikat.

5.      Validitas dan reliabilitas

Hasil  dari  sebuah  penelitian  akan  sangat  tergantung  pada  kualitas  datayang  dipakai  dalam  pengujian  tersebut.  Data  penelitian  yang  didalam  proses pengumpulanya seringkali menuntut pembiayaan, waktu dan  tenaga yang besartidak akan berguna apabila alat pengukur yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut tidak memiliki validitas dan reliabilitas.

a.      Validitas instrument

Instrument yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (pengukuran) itu valid atau shahih. Valid disini berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Seperti meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena memang meteran digunakan untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat.[22]

b.      Reliabilitas instrument

Instrument yang reliable adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrument yang tidak reliable/konsisten.[23]

6.      Teknik pengumpulan data

Untuk menentukan  data  yang  yang  diperlukan maka  dibutuhkan  adanya teknik  pengumpulan  data  agar  bukti-bukti  dan  fakta-fakta  yang  diperoleh berfungsi  sebagai  data  obyektif  dan  tidak  terjadi  penyimpangan  dari  keadaan yang sebenarnya. Untuk menggali data dari sumber yang telahditentukan, maka diperlukan alat kerja untuk mengumpulkan data yang disebut dengan teknik atau metode pengumpulan data. Adapun metode-metode yang diperlukan tersebut di antaranya adalah:

 

a.      Kuesioner (angket)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variable yang akan diukur dan tahu apa yang bias diharapkan dari responden.[24]

b.      Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain.[25]

7.      Analisis data

Dari hasil penelitian maka diperolehlah data, dari data yang diperoleh tersebut maka dilakukan analisis  untuk memastikan bahwa dengan penerapan pembelajaran tematik berbasis karakter dapat meningkatkan keberhasilan akademik atau prestasi siswa MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang.

Data yang diperoleh peneliti dari penelitian tersebut merupakan data  yang bersifat kuantitatif, sehingaa dianalisis dengan menggunakan  analisis  deskriptif  kuantitatif.  Sajian  tersebut  untuk menggambarkan bahwa dengan  tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan, atau perubahan ke arah yang lebih baik.

G.    Daftar Pustaka

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Trianto. 2010. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi Anak Usia Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

SB, Mamat. 2005. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.

Tim Pakar Yayasan Jati Diri Bangsa. 2011. Pendidikan Karakter di Sekolah: dari Gagasan ke Tindakan. Jakarta: PT Media Elex Komputindo.

Ihsan, Fuad. 2010. Dasar-Dasar Kependidikan: Komponen MKDK. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Muhnadi, Yudhi.2010. Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru). Jakarta: Gaung Persada Press.

H.    Lampiran (halaman selanjutnya)


[1] Munadi, Yudhi.2010. Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada (GP) Press.Hal 4.

[2] Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Kasus Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal 1.

[4] Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Kasus Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal. Hal 32.

[5] SB, Mamat. 2005. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Departemen Agama RI. Hal 3.

[6]Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi Anak Usia Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal 147.

[7]Ibid. hal 148.

[8]Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi Anak Usia Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal 150.

[9] SB, Mamat. 2005. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Departemen Agama RI. Hal 4.

[10]Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi Anak Usia Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal 154-156

[11] Ibid. Hal 156

[12] SB, Mamat. 2005. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Departemen Agama RI. Hal 7-10

[13] Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi Anak Usia Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal 158

[15] Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan karakter: menjawab tantangan krisis multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal 67.

[16] Ibid. hal 70

[17] Ibid. Hal 129.

[18] Ibid. Hal 88.

[19] Ibid. Hal 106

[20] Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan karakter: menjawab tantangan krisis multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal 175

[21] Prestasi Belajar. 2012. (Online) (http://elnicovengeance.wordpress.com/2012/09/30/prestasi-belajar/. Diakses tgl 13 Desember 2012, 19:50)

[22] Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta. Hal 121

[23] Ibid. hal 121

[24] Ibid. Hal 142

[25] Ibid. Hal 145

2 thoughts on “Proposal penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s